Tribun

Gempa Berpusat di Cianjur

Takut Gempa Susulan dan Tembok Rumah Retak-Retak, Mimin Pilih Tinggal Tenda Darurat

Mimin bersama warga di pengungsian tenda darurat dekat pemukiman kompak bersuara bahwa di tenda darurat yang disediakan Pemkab Sukabumi

Editor: Eko Sutriyanto
zoom-in Takut Gempa Susulan dan Tembok Rumah Retak-Retak, Mimin Pilih Tinggal Tenda Darurat
TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN
Pengendara kendaraan bermotor melintas di depan reruntuhan bangunan di Kampung Longkewang, Desa Gasol, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Kamis (24/11/2022). Desa Gasol menjadi salah satu lokasi terdampak paling parah diguncang gempa bermagnitudo 5,6 di Kabupaten Cianjur, Senin lalu. Lebih dari 60 orang meninggal dunia tertimpa reruntuhan bangunan, ratusan orang terluka, ratusan rumah rusak berat dan ringan, ratusan orang harus mengungsi di tenda-tenda terpal. TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN 

Laporan Kontributor Tribunjabar.id Kabupaten Sukabumi M Rizal Jalaludin

TRIBUNNEWS.COM, SUKABUMI -  Seorang pengungsi di Kampung Gedurhayu RT 42, Mimin (62) mengatakan, ia terpaksa tinggal di tenda darurat yang kondisinya tidak memadai bersama warga lain.

Ia enggan ke rumah lantaran ada gempa susulan apalagi kondisi tembok rumahnya sudah retak-retak.

"Ibu milih tinggal di sini tempatnya aman sama luas tempatnya, jauh dari pohon-pohon jadi aman, jauh dari bangunan, kata Mimin kepada Tribunjabar.id, Kamis (24/11/2022) malam.

"Di sini sudah 4 hari. Rumah retak-retak, takut ada gempa susulan, takut ibu kalau malam tidur gak ada yang ngebangunin, takut kebahayaan," ujarnya.

Mimin bersama warga di pengungsian tenda darurat dekat pemukiman kompak bersuara bahwa di tenda darurat yang disediakan Pemkab Sukabumi terlalu jauh dari rumah dan minim MCK.

Terlebih, pengungsi banyak yang memiliki anak kecil.

"Ada kekurangannya itu tenda, selimut, tempat tidur. Di sini lebih dekat, lebih aman, dekat ke rumah, WC di sini ada lebih dekat dari pada di bawah (tenda disediakan Pemda)," ucap Mimin bersama warga di pengungsian.

Mimin bercerita, untuk memasak siang hari dilakukan di rumahnya.

Namun, setiap kali memasak ia mengalami kepanikan karena gempa susulan.

Ia pun lari hingga terjatuh, terlebih ia membawa saudaranya yang sakit.

"Kalau masak di rumah aja, kalau pas ada gempa susulan ibu lari, masaknya berhenti dulu, kompor dimatiin dulu, kalau habis masak, nyuci, itu ke sini lagi," kata Mimin.

Baca juga: Mobil Rombongan Guru Al Azhar yang Terseret Longsor akibat Gempa Cianjur Ditemukan, Ada Logo Sekolah

"Bukan kerasa lagi (kalau ada gempa susulan), rumah ibu juga kan pecah-pecah, ibu lari jatuh lagi, lari jatuh lagi, belum saudara ibu sakit gak bisa jalan kaki, baju sampai di kewer-kewer (diangkat-angkat, red) saking paniknya," ujarnya.

"Mana itu rumah di samping tembok pecah, genting pada jatuh," ucap Mimin, mengusap air mata yang tiba-tiba menetes.

Miris! Korban Gempa Cianjur di Sukabumi Tidur di Tenda Reot, Terpalnya Bolong dan Minim Mimin Kondisi memprihatinkan dialami korban gempa bumi Cianjur magnitudo 5,6 di Kampung Gedurhayu, Desa Titisan, Kecamatan Sukalarang, Kabupaten Sukabumi, Kamis (24/11/2022).
Miris! Korban Gempa Cianjur di Sukabumi Tidur di Tenda Reot, Terpalnya Bolong dan Minim

Mimin mengaku membetahkan diri tinggal di tenda darurat yang kondisinya reot dan hanya ditopang bambu seadanya.

Ia dan pengungsi lain berharap ada bantuan terpal, selimut dan tempat tidur.

"Tinggal di sini di betah-betahin aja Ibu mah kalau ada mah tenda aja sama tempat tidur, terpal," ujarnya. (*)

Artikel ini telah tayang di TribunJabar.id dengan judul Miris! Korban Gempa Cianjur di Sukabumi Tidur di Tenda Reot, Terpalnya Bolong dan Minim MCK

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas